Hampir tiga bulan berlalu tanpa saya mengabadikan momen disini. Saya cek ternyata postingan terakhir sebelum ini bertanggal 23 Juli 2021. Itu artinya sehari sebelum A4 lahir. A4 kok kayak ukuran kertas saja, hehe. Akbar, maksudnya 🙂

Memang semenjak itu saya tidak membuka blog sekalipun. Padahal sangat banyak yang ingin saya ceritakan. Namun, seperti biasa, setiap kelahiran bayi baru selalu disertai perubahan ritme secara signifikan.

Di antara banyak hal itu, saya mulai dari yang terbaru, sebagaimana terbaca di judul. Sudah berjalan sembilan hari sejak Aliya bisa pipis di kamar mandi. Waktu itu, 27 September lalu, tiba-tiba saja Aliya bilang, "Mim mau pipis". Saya pikir, ia sudah pipis di clodinya seperti biasa. Ternyata clodinya kering, lalu ia pun berjongkok beberapa saat di kamar mandi, dan cuurrr, keluarlah pipisnya. Saya mengapresiasinya dengan ekspresi bangga. Dan Aliya pun senang.

Memang terlambat jauh mungkin ya dibandingkan anak seusianya, kini Aliya sudah berusia 3 tahun 9 bulan dan baru bisa pipis sendiri. Tapi ya memang karena saya selalu saja ada alasan untuk tidak memulai proses toilet training-nya. Pernah beberapa kali coba lepas popok, sehingga setiap pipis, airnya tercecer dimana-mana. Lelah juga membersihkannya, akhirnya saya pakaikan popok lagi.

Lama-lama saya biarkan, meski kalau teringat ya deg-degan juga, sampai kapan mau dibiarkan? Alhamdulillah, Aliya sama prosesnya dengan Ahnaf yang dulu ketika berumur 3,5 tahun juga tiba-tiba saja bilang mau pipis tanpa proses toilet training.

Sebagaimana pengalaman-pengalaman sebelumnya, yang pertama kali lancar adalah pipisnya, menyusul beberapa lama kemudian pupnya. Saya tidak memasang target kapan selesai berurusan dengan celana Aliya yang terkena pup. Santa saja. Pelan-pelan. Slow. Ben waras... seneng... sing penting ra stress... eheheh... udah ah.

Yang sering terlupa adalah meminta pertolongan kepada Allah.

Eh ya terkait ini, saya punya pengalaman dengan toilet training Akhtar. Saat itu saya mudah sekali merasa tertekan dengan pencapaian anak lain yang terlihat lebih baik dibandingkan anak sendiri. Ya namanya anak waktu itu masih satu, lalu kurang ilmu, jadi sering insecure lihat anak lain.

Yang tidak terlupa, proses toilet training juga sangat menguras emosi. Suatu hari setelah berbulan-bulan tak kunjung berhasil, saya mel


This free site is ad-supported. Learn more