CIANJUR –Sungguh malang nasib yang dialami sejumlah anak siswa-siswi SDN Padawaras, tepatnya, di Desa Sukaluyu, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur. Untuk mendapatkan ilmu pendidikan, puluhan siswa tersebut, harus menyebrangi sungai Ciujung, saat kepergi dan pulang dari sekolahnya. Karena, satu-satunya akses jembatan gantung dari sejak tahun 2018 putus terbawa banjir bandang.
Jembatan gantung tersebut hanyut akibat terbawa banjir dari sejak tahun 2018 tersebut, merupakan satu-satunya akses penghubung antara Desa Sukaluyu, Kecamatan Cikadu, Kecamatan Cidaun dan Kecamatan Naringgul. Aksi nekad tersebut dilakukan puluhan siswa SDN Padawaras, di Desa Sukaluyu, Kecamatan Cikadu, Kabupaten Cianjur.
Para siswa terpaksa menerobos air sungai yang kerap meluap. Alasanya, belum dibangunnya jembatan tersebut, akibat dilanda pandemi Covid-19. Salah seorang guru SDN Padawaras Eyep (48) membenarkan jika aksi nekad anak-anaknya tersebut, terpaksa dilakukan anak-anak didiknya. Pasalnya hingga saat ini, tidak ada akses jalan lain lagi yang memaksa anak-anak harus mengalahkan rasa takutnya dan bertaruh nyawa demi menuntut ilmu.
"Memang dari sejak terputusnya jembatan gantung tersebut, para siswa-siswi ini, harus melintasi Sungai Ciujung dengan jarak sekitar 100 meter dengan air yang cukup deras.Setiap hari anak anak harus menyeberangi sungai. Karena lokasi sekolah beda kecamatan," kata Eyep kepada wartawan, Minggu (31/07/2022).
Meski ada rakit (perahu), namun tidak sedikit anak anak lebih memilih untuk melintasinya dengan cara menyeberangi sungai. Menurutnya, sejak tahun 2018 jembatan gantung sebagai akses satu satunya warga yang menghubungkan antar kecamatan, yakni Kecamatan Cikadu, Kecamatan Cidaun dan Kecamatan Naringgul, hanyut akibat banjir bandang. Saat itu, sempat menerima usulan akan ada pembangunan, namun infonya lagi batal akibat pandemi Covid-19.
"Yang dikhawatirkan, apabila terjadi musim hujan turun air sungai banjir. Makanya, jika terjadi banjiir, banyak anak-anak yang tidak masuk sekolah, akibat tidak adanya akses penghubung tersebut. Kami berharap kepada pemerintah baik daerah, Provinsi dan pusat tolong bantu kami, bangun kembali jembatan ini, karena kami dan warga lainya juga anak sekolah sangat membutuhkan jembatan gantung yang permanen," pintanya.
Sementara itu, Kepala Desa (kades) Sukaluyu, Wahyu mengaku sudah beberapa kali mengajukan pembangunan jembatan gantung baru, baik ke Pemerintah daerah maupun Pemprov. Namun, hingga saat ini tidak pernah kunjung ada realisasinya.
"Memang dari semenjak jembatan gantung hanyut terbawa arus sungai pada tahun 2018, hingga sekarang ini belum ada pembangunan jembatan baru. Sehingga warga kami sangat kesulitan karena tidak ada jembatan, setiap harinya harus naik rakit ada juga yang nekad menyebrang turun ke sungai," terangnya.
Pasalnya, lanjut Wahyu jika pembangunan jembatan gantung tersebut, menggunakan dari Anggaran Dana Desa (ADD) tidak mungkin cukup. Karena pembangunan jembatan gantung tersebut, membutuhkan anggaran ratusan juta rupiah. "Akibat dari putusnya jembatan gantung Ciujung tersebut, bukan hanya berdampak kepada anak didik saja. Tapi berimbas, terhadap sektor ekonomi dan jual beli hasil bumi warga masyarakat," pungkasnya. SYA
No comments:
Post a Comment