Apakah Anda pernah melihat sisi jahat dalam diri Anda sendiri?
Apakah ada orang lain yang pernah menilai Anda jahat?
Apakah Anda setuju dengan penilaian dari orang lain tersebut?
Terkadang, secara sadar kita menyadari ada sisi jahat dalam diri kita, sifat yang tidak terpuji yang membentuk karakter kita di samping sifat-sifat baik yang kita miliki. Jika Anda merasa punya sisi jahat, selamat! Anda masih manusia. Jika Anda tidak merasa ada sisi buruk dalam diri Anda, berarti Anda sudah menganggap diri Anda selevel dengan malaikat.
Saya rasa, sifat jahat yang kita miliki ada yang bermanifest ke dalam ucapan, tindakan, respon, maupun hal yang zahir lainnya. Sehingga ada orang yang bisa melihat sifat jahat tersebut, kemudian melabeli kita sebagai orang jahat. Ada yang jahatnya sedikit saja, ada yang jahat banget. Ada pula yang jahatnya kondisional, ke orang atau situasi ini jahat, ke orang atau kondisi lain baik banget. Ada yang tingkatannya jahat tapi tidak mengganggu, namun ada juga yang mengganggu jalannya kehidupan orang lain.
Ada pula sifat jahat yang tidak terlihat. Jadi, real case-nya ada orang yang bisa bermuka dua. Dia tampak baik, misalnya dia rajin menolong orang, namun dalam hatinya sama sekali tidak ada niat ikhlas. Namun perbuatan baiknya janya untuk "patut-patut", atau ya biar dianggap orang baik saja. Berbuat baik, namun dalam hatinya diniatkan untuk ujub dan riya semata. Tidak ada ketulusan dalam perbuatan baiknya.
Jadi, kejahatan tipe itu sebenarnya tidak mengganggu orang, namun merugikan dia sendiri. Ibaratnya orang sholat, atau puasa. Tapi dia menggerutu dalam hati, melakukannya dengan setengah hati hanya untuk menggugurkan kewajiban. Lalu, bersedekah hanya untuk memenuhi rasa "puas" dalam hatinya, karena bisa menolong orang lain. Tapi niat aslinya tidak murni karena dia ingin beribadah.
Contoh-contoh yang saya sebutkan ini mungkin terdengar aneh di telinga kalian yang sudah terbiasa berbuat baik, senyatanya berbuat baik. Tapi, saya pernah menemui orang dengan perbuatan yang saya sebutkan di paragraf sebelum ini. Aneh, ya? Iya. Itulah kejahatan yang tidak nampak dan tidak mengganggu. Kalau orang bilang sih, itu urusan hati. Urusan dia dengan sang Pencipta.
Itu dari sisi perbuatan baik yang tidak selaras dengan ketulusan hati. Ada juga tipe orang yang memiliki sifat jahat, tapi tidak dizahirkan. Dia punya niat-niat jahat, tapi tidak pernah bermanifest menjadi perbuatan jahat. Contoh, ada orang yang pengen banget bunuh orang. Mungkin karena benci, atau sebab lainnya.
Ekstrim ya? Yang lebih ringan deh. Ada orang yang pengen banget ngatain orang, tapi tidak pernah ngatain orang. Hal itu terjadi karena sifat baik dalam dirinya masih lebih dominan, sehingga bisa mencegahnya dari perbuatan buruk. Ya sebatas niat saja. Adakalanya bisa berwujud menjadi kenyataan, misalnya karena sudah keterlaluan, dia akhirnya jadi ngatain orang.
Sepanjang pengetahuan saya, di agama Islam, niat baik yang tidak terealisasi, akan dicatatkan sebagai perbuatan baik dan mendapatkan pahala. Namun, niat buruk yang tidak terealisasi, maka tidak dicatatkan sebagai dosa. Baik banget ya, Allah. Coba kalau semua niat buruk kita dicatat sebagai perbuatan buruk dan mendapatkan dosa. Alangkah rugi orang yang dalam hatinya memiliki niatan-niatan buruk.
Walaupun demikian, apabila Anda masih memiliki sifat jahat yang terpendam dalam diri Anda, sebaiknya segera ganti sifat tersebut dengan kebaikan. Walaupun nggak kena dosa mikir/niat buruk, namun jika terus menerus kita pupuk, bisa jadi suatu saat akan bermanifest pada perkataan dan perbuatan kita. Saya sendiri secara sadar pernah punya pikiran buruk (tidak perlu detail saya ceritakan), dan dengan saya menulis ini perlahan saya membuang semua pikiran buruk tersebut.
Sifat-sifat jahat yang bercokol dalam diri kita sebaiknya dihapuskan, dan digantikan dengan sifat-sifat mulia. Caranya bagaimana? Belajar. Belajar melalui media appaun, termasuk bergaul dengan orang-orang saleh yang kita kenal. Semakin banyak teman yang saleh, kita akan lebih mudah memiliki sifat yang sama. Jika lingkar pertemanan kita orang-orang yang buruk, maka kita akan sulit menjadi orang yang baik karena normalisasi perbuatan buruk.
Waduh, lama nggak nulis udah panjang aja. Segitu dulu, semoga bermanfaat.
Indriani Taslim
Minggu, 22 Oktober 2023
No comments:
Post a Comment